Selasa, 10 Desember 2013

Mau Pintar Belajar, Mau Ijazah Sekolah

Apa yang Anda bisa banggakan dari Indonesia?
Begitu pertanyaan dosen saya saat selesai kuis dadakan. Tidak ada yang bisa menjawab secara pasti. Tidak ada pula yang akan menyangka akan ada pertanyaan seperti itu. Ya, terlalu banyak bahkan sangat banyak perbaikan yang harus dilakukan oleh bangsa ini. Perbaikan yang hampir menyentuh semua lini. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum, keamanan, bisa dikatakan secara keseluruhan masih memprihatinkan. Politik semakin oportunistik, sosial semakin individualistik, pendidikan semakin materialistik, ekonomi semakin kapitalistik.
Lima menit berlalu tak ada yang dapat menjawab. Saya akhirnya bercanda dengan teman sebelah, ’Indonesia perlu bangga karena ada film Habibie Ainun’ ujar teman sebelah. Saya tak mau kalah, Indonesia perlu bangga karena otaknya masih asli. J  (just kidding :P). Kami cekikikan.
Nah, pertanyaan berlanjut kepada sistem pendidikan. Wah, ini sudah menyangkut pekerjaan, batin saya. Karena dosen saya sudah tahu tempat saya mengajar, beliau kemudian mengajak saya berpikir ulang tentang tempat mengabdi dan mengamalkan ilmu. Daripada mengajar di sekolah yang inputnya sudah bagus dari sisi ekonomi dan kecerdasan, lebih baik mengajar di sekolah yang masih memiliki keterbatasan. Sehingga kita akan membantu mereka lebih banyak.
Nah nah nah... ini kemudian yang menjadi bahan pikiran saya seharian. Bukan sengaja berpikir, namun karena dalam perjalanan pulang saya kena macet dan akhirnya ketinggalan kereta. Akhirnya saya jadi punya banyak waktu untuk berpikir.
Saya menyadari bahwa sistem pendidikan Indonesia ini masih perlu banyak perbaikan. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Ing. Fahmi Amhar;
... di negeri ini ada ribuan sekolah dan jutaan siswa. Mereka menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya. Mereka melakukan banyak hal kecuali belajar. Mereka mendapatkan banyak hal kecuali ilmu!
Ironis memang. Namun itu adalah kenyataan pahit yang harus kita terima, yang perlu di follow up dengan merubah. Seperti yang selalu dosen saya lakukan, mengajak kami berpikir untuk sadar akan realita yang buruk, kemudian menjadi bagian dari solusi. 
Sekolah saat ini sudah menjadi komoditas para kapitalis. Hanya ada dua jenis siswa yang dapat mengenyam pendidikan bermutu dengan fasilitas yang super lengkap. Pertama adalah siswa yang orang tuanya kaya (terlepas apakah dia pandai atau tidak), kedua adalah siswa yang kurang mampu namun berotak cerdas yang dapat menikmati pendidikan dengan beasiswa. Tipe siswa kedua ini dijadikan investasi pada beberapa sekolah untuk mengharumkan almamaternya.
Bagaimana kemudian nasib siswa yang kurang mampu namun juga kurang cerdas? Mereka menumpuk di sekolah swasta atau negeri yang fasilitasnya sangat kurang. Tenaga pendidiknya jarang. Padahal bisa jadi dia kurang cerdas karena kurang gizi, kurang gizi karena ekonominya lemah, ekonominya lemah karena dia kurang cerdas. Pada akhirnya mereka berputar pada lingkaran setan. Harus ada yang berjuang untuk memutus lingkaran setan ini.  Siapa? Guru kah?
Pertanyaannya kemudian, jika kita seorang guru, maka sekolah mana yang seharusnya dipilih?
Idealnya untuk merubah memang seharusnya kita memilih untuk mengabdi di sekolah-sekolah yang fasilitasnya kurang. Mereka yang membutuhkan bantuan kita. Namun apakah sampai sini masalah selesai?  Belum ternyata.
Sekolah pertama tempat saya mengajar adalah sekolah dengan nama yang sama dengan sekolahnya ’Ikal’ dalam tetralogi laskar pelangi. Fasilitasnya, muridnya, semuanya mirip meski tidak separah sekolahnya ikal asli. Saat saya menulis, papan tulisnya berlubang dengan diameter 10 cm dan cukup mengganggu karena berada agak ditengah. Ketika saya bertanya darimana asal lubang itu, mereka menjawab hasil perkelahian siswa.
Besar harapan saya untuk bisa menjadi seperti bu Muslimah, gurunya ikal (Andrea Hirata). Sosok guru yang sabar dalam mendidik anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan. Saya punya tekad yang kuat untuk minimal membuat mereka melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Saat itu saya mengajar anak kelas 12 yang akan menghadapi UN. Saat saya mengajar Fisika, waktu UN tinggal 4 bulan lagi. Itu adalah kali pertama mereka belajar Fisika lagi pada semester dua kelas 12. Guru Fisika mereka tidak pernah masuk kelas.
Murid-murid saya sangat semangat belajar mengejar ketertinggalan. Beberapa diantara mereka bahkan cerdas. Ada dua atau tiga siswa yang saya datangi untuk berdiskusi tentang masa depan kuliah mereka. Beberapa diantaranya optimis. Saya memberikan beberapa informasi penting tentang beasiswa dari universitas terdekat. Itu adalah saat terakhir saya bertemu dengan mereka sebagai guru dan murid. Karena beberapa bulan setelah UN, saya diberhentikan karena saat itu saya masih kuliah. Tidak masalah, saya mendapatkan pengalaman yang berharga, saya masih berharap agar mereka mau memikirkan kuliahnya.
Setahun berlalu. Saya bertemu dengan siswa paling cerdas di kelas saya. Dia meminta maaf karena dia tidak bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Saat itu posisinya sebagai tulang punggung keluarga. Akhirnya dia bekerja menjadi buruh pabrik. Dia bercerita bahwa tidak ada teman-temannya yang kuliah. Saya kecewa. Sepertinya harapan saya terlalu tinggi.
Saya juga pernah mengajar di sebuah SMK yang konon kabarnya muridnya banyak yang merupakan anggota geng motor. Saya aktif di sebuah gerakan yang salah satu sarana geraknya melakukan pembinaan ke sekolah-sekolah. Saat memberikan penawaran kepada sekolah itulah, kemudian kepala sekolahnya menantang saya untuk mengajar disana.
”Kalau teteh mau berdakwah, daftar jadi guru disini. Lihat seperti apa murid-murid kami. Saya akan sangat terbantu jika teteh mau berdakwah sambil mengajar.”
Tawaran beliau saya terima.
 Saya masuk sebuah kelas otomotif yang muridnya semuanya laki-laki. Dari daftar hadir, saya melihat jumlah siswa 53 orang, namun saat bel berbunyi hanya ada lima orang di dalam kelas. Artinya masih ada 48 siswa lagi yang belum hadir. Iseng-iseng saya bertanya apa cita-cita mereka. Seorang menjawab ingin menjadi pemain bola, seorang menjawab ingin bertanding dengan AC Milan yang disambut gelak tawa cemoohan teman-temannya. Sisanya terdiam agak lama sebelum menjawab mereka tidak tahu cita-citanya apa. Setengah jam kemudian tak disangka sebagian besar siswanya datang, dengan mulut bau rokok, baju seragam kumal dan acak-acakan, serta tentu tidak sedikitpun memberi salam kepada saya. Langsung masuk dan duduk ke dalam kelas.
Saya saat itu tidak langsung mengajar, saya menulis besar-besar di papan tulis beberapa tokoh dunia. Muhammad saw, Albert Einstein, Al-Khawarizmi, Mark Zuckenberg (mohon maaf atas kesalahan penulisan nama dan gelar J), Bill Gates. Bisa ditebak mereka hanya tahu nabi Muhammad saw (syukurlah setidaknya mereka ingat nabinya), sisanya nggak kenal. Selama satu jam saya berbicara panjang lebar tentang motivasi hidup, berkarya, merubah. Mungkin itu terlalu tinggi bagi mereka, akhirnya kelas ribut dan suara saya habis karena bercerita dengan berteriak-teriak.
Saya sedih mendengar salah seorang guru yang berbicara kepada saya, ”siswa di sekolah ini tidak ada harapan. Kita di sekolah mendidik mereka tak lebih hanya beberapa jam, berikutnya mereka masuk ke dalam lingkungan keluarga dan pergaulan yang tidak sehat. Apa yang kita ajari, tidak akan berbekas”
Di sekolah mereka tidak belajar apa-apa, pergaulan mereka sarat dengan kekerasan dan mereka juga dilingkupi oleh kemiskinan. Tidak bisa bayar uang sekolah, akhirnya jarang masuk kelas.
Satu bulan berikutnya saya resign karena kuliah. Untuk 12 jam mengajar seminggu, 48 jam sebulan, gaji saya adalah seratus ribu rupiah. Bukan, saya tidak bermaksud mengeluh dengan gaji yang kecil. Namun saya memikirkan bagaimana nasib guru disana yang punya tanggungan keluarga dan dibayar dengan rendah seperti itu. Tak heran banyak guru jarang mengajar, jarang masuk. Mungkin mereka harus mencari pemasukan lain selain mengajar. Saat itu saya juga sempat mengajar siswa kelas 12. Saya sudah bisa menebak mayoritas pilihan mereka selepas lulus. Jadi saya tidak bertanya.

Bagaimana dengan sekarang?
Saya mengajar di sebuah sekolah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Dengan aula sekaligus ruang makan, klinik, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium fisika, kimia, biologi, kelas dengan jumlah siswa terbatas, full AC dan speaker aktif.  Bisa ditebak ini adalah sekolah dengan dua tipe siswa yang sudah saya sebutkan di atas. Siswa dengan orang tua yang berada (dengan kecerdasan di atas rata-rata dan rata-rata), ada pula beberapa siswa cerdas yang mendapatkan beasiswa karena prestasinya dalam olimpiade.
Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mengajar di sekolah seperti ini?
Proses kesadaran paling dalam adalah dengan mengalami, memikirkan dan merenungkan. Saya sangat menyadari bahwa perubahan harus dilakukan bukan dengan memberbaiki persoalan cabangnya saja. Namun perubahan harus dilakukan dalam tataran sistemik, karena masing-masing persoalan memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Karena itu perubahan yang dilakukan tidak bisa secara parsial (cabang) namun harus kompherensif (menyeluruh). Dengan kata lain mengubah sistem. 
Akhirnya saya menyadari, proses perubahan tidak bisa dilakukan dengan mengajar di sekolah. Karena apa yang kita ajarkan tidak bisa mentransformasi siswa menjadi sebuah pribadi baru. Proses perubahan perilaku berkorelasi dengan perubahan pemikiran dan perubahan pemikiran dapat dilakukan dengan proses pembinaan dengan mekanisme khusus (halqah atau liqa'). 
Bagi saya, mengajar adalah ibadah, karena itu saya akan mencari tempat terbaik untuk beribadah. Saya akan mencari tempat yang membuat saya bisa berkontribusi dengan maksimal serta membuat saya lebih baik.
Jika melihat input dari siswa di sekolah tempat saya mengajar sekarang, saya melihat bahwa mereka adalah calon generasi yang paling mungkin untuk diharapkan menjadi generasi PENGGANTI (bukan generasi penerus, jangan meneruskan keburukan yang ada). Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang mapan, karena itu mudah bagi mereka untuk mendapatkan akses pendidikan. Sebagian besar siswa disini mampu melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Sangat mungkin diantara mereka kelak akan ada yang menjadi dokter, pemimpin rakyat, pengusaha yang memiliki banyak karyawan atau orang-orang yang memegang peranan penting nantinya di negeri ini.
Karena itulah saya mengajar di sekolah ini. Ketika saya mengajar Fisika, saya berusaha untuk tidak hanya mengajari mereka Fisika. Namun juga mendidik mereka untuk menjadi orang cerdas yang bertanggung jawab. Banyak nasihat-nasihat dari dosen-dosen saya yang saya sampaikan kembali kepada siswa saya. Karena mereka juga banyak menginspirasi saya. Saya menyampaikan kembali apa yang guru-guru saya ajarkan kepada saya tentang tujuan hidup. Mengingatkan tentang pentingnya berusaha keras, pentingnya peduli terhadap persoalan sekitar dan tidak bersikap individualis. Mengingatkan mereka untuk menjadi bagian dari solusi. Mengingatkan mereka tentang adanya hari akhir agar tidak membuat mereka sombong dengan kondisi yang ada. Ya, saya ingin meluruskan generasi pengganti ini.
Pertama kalinya saya bertemu kembali dengan siswa saya tahun kemarin, diantara mereka ada yang kuliah di kedokteran sampai ke Jerman, kuliah di Turki, kuliah kedokteran dan hukum di Indonesia. Saya sangat berharap kepada mereka untuk bisa menjadi aset bagi dunia kelak. 
 Saya tidak memandang sebelah mata bagi para guru yang mengajar di sekolah terpencil. Bahkan saya sangat kagum kepada perjuangan mereka yang sampai merenggut jiwa (salah satu pengajar di sekolah SM3T yang meninggal adalah adik tingkat saya). Saya juga mendengar banyak sekali kisah sekolah-sekolah di daerah terpencil dari kakak saya yang juga mantan pengajar muda program indonesia mengajar. 
***
Kesimpulannya, apapun profesi kita, dimanapun kita beraktivitas, dengan siapa kita berinteraksi sehari-hari, kita harus memberikan kontribusi sebesar-besarnya untuk perubahan. Itu yang selalu ditekankan oleh guru-guru saya.
Saya merindukan sebuah kondisi dimana akses ilmu pengetahuan sama mudahnya dengan bernafas. Saya merindukan ketika setiap orang berlomba-lomba untuk mencari ilmu dengan dorongan:
”Setiap muslim, laki-laki maupun perempuan hukumnya fardhu mencari ilmu”.
”Kejarlah ilmu sampai ke liang lahat”
”Barangsiapa mencari ilmu, dia sedang mencari Tuhannya”
”Mempelajari ilmu bernilai seperti puasa, mengajarkan ilmu bernilai seperti shalat, barangsiapa mati dalam perjalanan mencari ilmu, dia seperti mati syahid dalam jihad fi sabilillah”
”Kejarlah ilmu dari sumber manapun”
Dengan motivasi ini umat Islam mencapai kejayaannya dalam IPTEK pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.  Dia memerintahkan untuk mendatangkan para pakar segala bahasa ke Istananya. Mereka bekerja dibawah koordinasi Yahya bin Masawih menerjemahkan segala buku ilmiah yang bisa diperloleh dari manapun saat itu. Untuk memperbanyak tim penerjemahan Khalifah al-Makmun mendirikan akademi penerjemahan. Tanpa pekerjaan mereka, dunia kita sekarang tidak akan megenal buku anatomi dari Galens; buku mekanika dan matematika dari Heron, Philo dan Menelaos; buku Astronomi dari Ptolomeus; buku Geometri dari Euklides; buku tentang irisan kerucut dari Appolonius; buku tentang kesetimbangan di air dari Archimides dan lainnya (Amhar, 2011).
Dalam Islam, sebelum menguasai ilmu pasti (IPTEKS), di sekolah dasar mereka dibekali dulu dengan akidah yang kokoh. Mereka mencari ilmu untuk memberikan kontribusi sebesar-besarnya pada kemudahan ibadah dan penyebaran cahaya Islam.  Belajar menjadi murah ketika akses ilmu dibuat mudah.
Ya, kita sedang tidak bernostalgia. Saya hanya ingin menekankan bahwa perubahan menyeluruh adalah perubahan sistemik. Dengan kata lain kita butuh revolusi untuk mengganti sistem yang rusak. Ibarat pohon, kondisi pohon yang sekarang sudah hampir mati dipenuhi oleh hama. Dibersihkan dedaunan atau rantingnya pun tidak akan membantu karena sudah rusak sampai ke akar. Yang perlu dilakukan adalah perubahan secara revolusioner. Mengganti pohonnya.  Dengan sistem Islam tentunya.[]
Wallahu’alam bishowab

Dilarang Kembali Lewat Pintu Masuk

Pernahkah kalian memilih suatu hal, namun dipertengahan kalian merasa begitu takut untuk maju dan ingin kembali pulang. Saat kalian berbalik arah, ada sebuah kenyataan pahit bahwa kalian tidak bisa pulang sebelum sampai garis finish. Karena disana pintu keluarnya.
Saya pernah.
Saya tau saya ini penakut. Namun iseng saya pernah masuk ke sebuah wahana di TSB yang berkaitan dengan alam ghaib (rumah hantu). Saya (saat itu bersama suami) naik eskalator, sesampainya di atas kami disambut oleh ruangan yang super seram. Mental saya drop, sieun pisaaaaan….. Saya menarik baju suami dan mengajaknya turun. Tapi ternyata, TIDAK ADA ESKALATOR TURUN! Disitu tertulis, “Dilarang kembali pulang! Pintu keluar ada di dalam”
Sejujurnya, seumur hidup saya baru pertama kali masuk rumah hantu. Dari sekian banyak kesempatan, saya selalu berhenti di depan pintu masuk dan saat ada suara teriakan dari dalam, saya langsung kabur. Meski tiket udah beli.
Jadi ini adalah pengalaman pertama saya masuk rumah hantu.
Akhirnya? Saya berusaha mengatasi rasa takut saya dengan merem dan bernyanyi dududu lalala… Waktu saya buka mata juga ngga apa-apa karena ternyata kebanyakan hantunya terlambat muncul. Pas saya udah lewat dia baru keluar. Jadi ngga serem serem amat hehehe (weeiiiissss…..)
Yang ingin saya bicarakan sebenarnya bukan tentang hantu. Namun bagaimana kita bisa menghadapi masalah kita SAMPAI SELESAI dan tidak mundur di awal ataupun di tengah. Bukankah Thariq bin Ziyad juga membakar kapal para tentaranya saat sampai di tempat penaklukkan? Tujuannya agar semua pasukannya meneguhkan hatinya akan tujuan utama mereka berada disana.
Sebetulnya saya sedang menasehati diri saya sendiri. Sekarang saya berada di sebuah negara yang menjadi impian saya sejak 4 tahun yang lalu. Namun, hanya berselang 5 hari, saya merasakan home sick yang amat sangat. Pengen pulang. Bukan apa apa, separuh jiwa saya ada di Indonesia, sehingga saya merasa tidak terlalu menikmati semuanya. Saya kemudian mengirim email kepada koordinator beasiswa untuk mempersingkat studi saya dan mereka menjawab: “Kamu harus menyelesaikan satu semester penuh” Artinya, tidak ada jalan pulang sebelum selesai.
Hal ini cukup membuat galau berkepanjangan dan membuat pikiran tidak fokus. Sedih saya rasa hal yang lumrah. Hingga kemudian Allah mempertemukan saya dengan banyak teman dari Indonesia di sebuah festival hari ini. Dari cerita mereka saya semakin malu karena perjuangan mereka disini untuk menimba ilmu benar-benar kuat. Bahkan cerita mereka bahkan lebih sedih, namun keberadaan mereka disana menunjukkan konsistensi yang baik. Sehingga banyak yang menuai kesuksesan dan sudah banyak pula yang berkontribusi. Saya pun berpikir bahwa saya disini karena sebuah tujuan. Belajar. Bukan hanya belajar secara kontekstual yakni belajar Fisika. Namun juga belajar hidup. Agar setelah selesai dan pulang nanti ada kontribusi yang bisa diberikan, untuk keluarga, dakwah dan ummat. Dengan kata lain saya kembali meluruskan niat menimba ilmu untuk akhirat.
Apapun itu, jika itu kebaikan yang kita pilih, maka jangan pulang sebelum selesai melaksanakannya. Apapun peran kita, baik sebagai seorang pengemban dakwah, mahasiswa, seorang istri, suami, anak, ayah, ibu, nikmati saja prosesnya dan selalu ingat akan tujuan utama setiap aktivitas yakni mendapatkan Ridho Allah… Berdoa jika menghadapi kesulitan, karena Dia menjanjikan 2 kemudahan dalam 1 kesulitan. J
Kerinduan ini akhirnya terobati dengan menulis…

*tulisan ini ditujukan untuk menampar diri sendiri



Hati-hati kalau nge-cap!

Pernah ngga kalian mengalami ini. Kalian beli sesuatu di minimarket, terus yang jualannya orang Cina. Jujur, apa yang ada di kepala? Ah, pasti engko-engkonya pelit dan irit. Gitu ngga? Padahal kita sama sekali belum pernah ketemu dengan engko-engko tadi meski dalam mimpi. Begitulah, sepertinya kita hidup di lingkungan yang penuh dengan stereotype (stempel/ cap yang melekat). Orang padang stereotypenya pandai dagang, orang Sunda di cap suka dandan, padahal ngga semuanya gitu kalee. Begitu juga dengan harokah dakwah, hati-hati ngaji di situ mereka bahasnya politik aja, eeeh, jangan ngaji disitu, itu kajian sesat lho, bid’ah, ngga nyunnah. Orang yang tadinya pengen bener buat ngaji, jadinya kemakan isu dan kebanyakan malah jadi males buat ngaji. Gitu ngga sih?
Sama kayak disini, sekarang menyambung catatan yang sebelumnya. Di Eropa sini nih, berita tentang Islam itu ngga imbang banget. Ngga sesuai dengan kenyataan. Bahkan Islam dan Teroris adalah dua kata yang hampir tidak terpisahkan. Yang ngga kritis biasanya nelen aja mentah-mentah. Saya inget dulu waktu naik kereta di Jerman, ada seorang penumpang yang baca koran. Disana terpampang besar-besar (kurang lebih isinya) Teroris dengan gaya baru: Jeans dan kerudung koboy. CMIIW. Plus ada foto besar seorang akhwat dengan kerudung pas mina dan pake jeans. Parahnya, waktu itu saya pake jilbab bahan jeans dan kerudung pas mina dengan gaya persis di gambar. *ya Allah itu gambar gue bangeeet. Serem juga sih kalau tiba-tiba ditangkep gara-gara mirip sama yang di gambar. Tapi engga ding, alhamdulillahnya mereka woles dan selama disini saya ngga pernah dapet pengalaman buruk.
Aslinya, sebelum saya kesini, saya ngga tahu bahwa stereotype tentang Islam Teroris di Eropa sangat kuat. Plus karena semua orang disini tampak respek dan tidak pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan kepada saya. Namun, saya tidak tahu bahwa ternyata tidak semudah yang dikira untuk menjadi muslim disini.
Sister dari Perancis bercerita tentang negara tempat dia dilahirkan, Afghanistan. Cap yang dialamatkan kepada Afganishtan adalah Taliban, pengekangan perempuan, kewajiban menggunakan burka dan niqab. Karena itu si Malala diekspos sama PBB waktu dia buka suara tentang Taliban. (http://topinfopost.com/2013/07/22/the-talibans-letter-to-malala-yousafzai). Terlepas benar atau tidak dari kesaksian Malala, tapi kira-kira PBB melakukan hal yang sama ngga ya kalau pelakunya orang Barat. Saya kira tidak.
Padahal, kata dia, di negaranya ngga gitu-gitu banget. Perempuan hidup normal, bahkan banyak juga yang ngga pake cadar. Banyak berita tentang negaranya yang salah. Sekarang dia hidup di perancis dan bukan sebuah hal yang mudah seseorang dengan wajah eropa menggunakan hijab. Sering dia mengalami, saat naik bus, sopirnya menutup pintu bus saat melihat dirinya. Atau diusir keluar saat masuk ruang kuliah.
Sister dari Poland yang sekarang tinggal di Belanda juga mengalami hal yang sama. Dia sudah lima tahun menjadi mualaf, namun ayah dan ibunya tidak tahu dia menjadi mualaf. Dia menikah dengan seorang muslim dan dia meyakinkan kami bahwa dia menjadi mualaf bukan karena suaminya. Dia melewati proses berpikir dan itu semata-mata adalah pilihannya. Orang tuanya tahu dia menikah dengan seorang muslim, mereka tidak keberatan. Namun catatan penting dari ibunya, kamu lahir beragama XXX, tidak apa apa kamu menikah dengan muslim, tapi kamu harus meninggal dalam keadaan XXX. Jadi, boleh menikah asal tidak meninggalkan agamanya.
Sekarang dia dilema, ada kewajiban untuk menjaga perasaan orang tua, dia tahu ibunya sedang sakit dan khawatir kondisinya memburuk jika mendengar beritanya.
Memang ada juga yang keluarganya open minded, terserah mau memilih agama apa yang penting bikin kamu jadi lebih baik. Dia menjadi mualaf sudah setahun, and everything is ok. Tapi ada juga yang sampai diusir dan ngga dianggap keluarga lagi (sama kayak di Indonesia banyak kan ya…).
Saya jadi bersyukur terlahir sebagai muslim…
Kamu tau sister, disini warga negara asli punya anggapan bahwa orang Poland pasti agamanya XXX, jika berganti agama artinya kamu bukan Polish lagi. Ketika menyetir mobil, sebelum menggunakan hijab polisi lalu lintas sangat ramah. Namun setelah menggunakan hijab, dibiarkan lewat pun tidak. Dimana-mana, akan ada tatapan sinis ketika kamu menggunakan hijab. Kamu orang Poland, kenapa harus pake baju kayak gitu.
Lucunya lagi, bahkan negara yang mayoritasnya muslim pun sama saja. Teman sekamar saya cerita, katanya ada dua kubu di Turki. Kubu Kemal (Attaturk) dan Kubu Erdogan. Turki menjadi negara yang sekular di bawah kubu Kemal. Kita tidak boleh berkata buruk sedikitpun tentang Attaturk karena mayoritas orang Turki berada di pihak Attaturk. Sedangkan kubu Erdogan adalah orang-orang yang mendukung diperbolehkannya menggunakan identitas agama dalam kehidupan. Masing-masing wilayah di Turki punya kubunya masing-masing, jadi bisa jadi perlakuan orang terhadap orang yang berhijab berbeda. Tergantung di bawah kubu siapa dia berada. Rupanya pengaruh sekularisme di Turki sudah sedemikian parah, sampai kadang-kadang teman saya ini bingung. Well, kalau di Indonesia, kita sayang sama saudara muslimah kita sehingga banyak yang menasehati mereka untuk berhijab. Di Turki? Kebalik, hehehe… Dia sering ‘diceramahi’ baik di bus, di sekolah, di manapun dia berada (karena kawasan tempat dia mayoritas kubu Kemal). Ibu-ibu protes kepadanya kenapa kamu menutup kepala dengan kerudung? Bahkan pernah ada seorang laki-laki yang menceramahinya selama setengah jam tentang kerudungnya tanpa dia sadari. Karena dia pake headshet di dalem kerudungnya. :D Di sekolah dia tidak punya teman karena cara berpikirnya yang ‘unik’ (padahal Islam memang begitu).
Saat berangkat ke masjid saja, teman Turkinya masih bertanya-tanya “Kamu kenapa harus ke masjid?”
“Sekarang Idul Adha neng”
“No no no, itu pembunuhan binatang (padahal disana kita ngga nyembelih apapun). Tapi boleh lah ada pesta kan ya”
“No, itu bukan pesta, tapi ibadah neng. Sholat Eid”
Dia masih ngga ngerti juga, padahal dia orang ISLAM! Capek deeeh….
Ya, terlalu banyak stereotype yang dialamatkan kepada Islam, terlalu melekat konsep sekularisme pada umat Islam. Yang menjadikan Islam terasing bahkan di dalam komunitasnya sendiri.
Ajaibnya lagi, ada seorang sister yang menggebu-gebu membicarakan tentang diskriminasi Islam, dia punya anak namanya Omar. Dia berhijab. Dia berharap kebanyakan orang berhenti memusuhi Islam. Dan ternyata dia non muslim! Namun dia suka menggunakan hijab. Aneh, tapi nyata..
(Eh, tapi memang banyak juga kan ya yang non muslim pake hijab karena mereka merasa aman)
Setidaknya hal itu menjadikan kita disini harus bersyukur. Bahwa tantangan untuk berIslam secara kaffah di negeri ini belum sampai se-ekstrim negara-negara lain. Bahwa upaya menyadarkan umat akan bahanya sekularisme tidak boleh berhenti, karena itu sangat berbahaya. Bahwa kondisi yang ‘nyaman’ di negeri sendiri tidak boleh menjadikan kita terlena dan bermalas-malasan *cetarrr! Mencambuk diri sendiri.
Bahwa Islam yang kita bawa adalah fitrah, sehingga bisa jadi (seperti banyak yang sudah mengalami) Islam merubah hidupnya 180 derajat. Wallahu alam bishowab… 


NB: Saya ada Peer nih dari dosen Polish Culture and History, dia kayaknya pengen tau banget tentang Indonesia. Saya banyak ditanya-tanya selama belajar. Dia ngasih peer untuk bikin presentasi tentang Indonesia, gimana perempuan disana (kemakan stereotype),  kira-kira apa yaaa yang harus ditampilkan? 

Obat Hati Part 1

Benar memang apa kata nabi, berkumpul dengan orang shaleh membawa kedamaian di hati, membasuh kekeringan jiwa dan menambah ghirah serta semangat untuk terus menjadi manusia yang taat. Saat ini saya sedang keluar dari wilayah nyaman. Nyaman saat dikelilingi oleh orang terkasih, yang mengingatkan dengan tulus jika saya salah. Lingkungan yang kondusif dan pergaulan yang terjaga. Jika dipikir-pikir, dari mulai lingkungan rumah, kampus tempat belajar, ataupun sekolah tempat mengajar, semuanya kondusif. Menyenangkan sekali, bisa terus terjaga dan saling menjaga dalam kebaikan.
Ya, tapi yang namanya manusia harus bisa hidup di segala kondisi. Taat tidak hanya jika dilihat. Dalam kondisi orang di sekitar banyak yang bermaksiyat, kita harus tetap taat. Kayak sekarang, dimana-mana terlihat semua hal yang dianggap tabu untuk dilihat (di negara kita). Saya yang serba tertutup begini malah jadi artis dan dilirik (meski diam-diam) saat berjalan di tempat umum. Kadang penasaran apa yang mereka pikirkan, tapi ya positif thinking aja (biasa lah orang cantik . Sholat ngga ada mushola dan waktu belajarnya mepet-mepet. Ngga ada adzan pula, jadi harus siap siaga jadwal sholat setiap harinya. Mau makan harus tenang dan baca baik-baik jangan sampai kemakan hal yang haram. Mau keluar kamar aja harus ngintip-ngintip takut ada laki-laki yang masuk. Tapi ya, itu semua cara Allah untuk mengajari kita sifat wara’, berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Intinya, woles aja hehehe…
Allah selalu memberikan dua kemudahan dalam satu kesulitan. Alhamdulillahirabbil’alamiin…
Kemudahan pertama, saya bisa bertemu dengan komunitas halqah online. Meski on line via skype, namun terasa nyes… sampai ke hati. Saya ingat, ketika ada seorang kawan yang bertanya; “Fit, kamu masih ngaji di As-Saied?”. Saya menjawab, “Insya Allah, karena hidup saya stabil hanya dengan mempelajari ilmu Islam dan bergabung di Jamaah dakwah.” Ya, tidak ikut halqah seminggu saja rasanya ada yang hilang. Saya sujud syukur waktu bisa ketemu komunitas ini. Halqah, kajian eksternal dan internal semuanya tetap berjalan seperti biasa. Bedanya hanya tidak bertatap wajah saja. Wawasan semakin luas dan saya merasa dikuatkan kembali bersama mereka.
Kemudahan kedua, adalah masjid. Kakak tingkat saya yang memberikan informasi berharga ini. Jangan tanya bagaimana rasanya saat melihat masjid di kota ini untuk pertama kalinya. Saya sempat diam di depan masjid untuk beberapa saat, menikmati kebahagiaan menemukan rumah-Nya.
Iedul adha kali ini juga beda. Takbir tidak menggema dimana-mana, bahkan di malam takbiran ada party di lantai atas. Musiknya keras dan berhasil bikin suasana berasa di klub malam :P. Karena tidak konsen belajar (ehem belajar…), akhirnya saya tidur lebih awal karena besok jam enam saya harus berangkat ke masjid.
Shubuh disini jam 5.30, setelah sholat shubuh kami (saya dan roommate) mengejar tram no.1 yang ternyata sudah datang. Alhamdulillah bapaknya baik, kami ditungguin sampai masuk. Perjalanan menuju masjid makan waktu sekitar 30 menit. Di luar masih gelap dan sebetulnya kami janjian dengan teman dari Pakistan. Namun sepertinya hanya kami yang masuk tram :D
Sampai di masjid, baru ada kami berdua. Perempuannya maksudnya. Ada bapak-bapak dateng ke ruangan akhwat, mengasapi ruangan dengan aroma yang khas masjid.
“Are you from Indonesia?” tanyanya kepadaku. Saya mengangguk. Wow, hebat juga Bapak ini bisa nebak saya dari Indonesia, kenapa ngga dikira dari Palestina aja (akhwat disana kan cantik-cantik, hohoho).
“Subhanallah... Do you understand Arabic? Or Polish?”
Jleb, tengsin nih. Makanan setiap minggu kitab berbahasa Arab, tapi ngga ngerti banget bahasa Arab. Tapi ya jujur adalah segalanya, akhirnya saya menggeleng, “I don’t understand both. Just English”
Bapak itu senyum, it’s okay. Baru diketahui ternyata khutbahnya pake bahasa Arab dan Polish fren!
Gema takbir bersahutan di dalam masjid. Satu per satu para muslimah hadir juga. Dengan warna kulit, warna mata dan cara berpakaian yang berbeda. Subhanallah, senangnya bertemu dengan banyak muslimah dari berbagai negara. Ada yang dari Perancis, Pakistan, Belanda, Bangladesh, bahkan banyak juga native Polish yang convert agamanya ke Islam.
Selesai sholat, dilanjutkan dengan khutbah yang membuat kening berkerut. Ada beberapa kalimat yang dimengerti. (lalala yeyeye, ngga bleng-bleng amat). Tentang kondisi umat Islam di Mesir, Suriah, dan beberapa negara Islam lainnya.
Selesai sholat Ied kami diantar ke atas untuk sarapan. Naik ke atas meja-meja sudah berjejer, sudah penuh dengan makanan yang cukup membuat perut yang belum diisi keroncongan. Saya duduk dengan sister dari Turki, tiga native Poland dan seorang perempuan cantik dari Perancis, dia lahir di Afganishtan.
Dari sinilah pembicaraan kami dimulai... Supaya tidak capek bacanya, saya cerita di catatan lain yaa…  



HARKOS

Salah satu yang beda dari masyarakat eropa dengan lingkungan di asia adalah kejujuran mengungkapkan perasaan. Terkadang bagi saya yang baru disini, kejujurannya terasa frontal. Kalau di kelas, mereka ngga ngerti dengan penjelasan seorang guru, dia bakal bilang apa adanya. Kalau misalnya ditanya tentang sebuah pendapat atau pemikiran, mereka seperti yang bebas mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka. Jadi inget waktu belajar ada yang nanya sama gurunya ketika sang guru sedang merekomendasikan sebuah buku, buku ini beneran berguna ngga sih? Hihihi.. berani bener dia.
Kalau kita sih, sebelum berucap mungkin banyak yang bertanya balik sama diri sendiri, lawan bicara kita akan tersinggung atau tidak, pertanyaan kita akan ditertawakan atau tidak. Kita banyak menimbang-nimbang dan pada akhirnya entahlah tapi ini yang saya perhatikan, murid-murid dari asia itu pendiam kalau di kelas. Ya memang ngga semuanya kayak gitu, itu mah kasuistik mungkin ya.
Kalau saya pribadi, waktu di Indonesia sering ngerasa ngga enakan. Gimana ya menjelaskannya, tapi ketika kita diajak atau ditawari seseorang yang kitanya ngga mau, kita sering berlindung di balik kata Insya Allah, yang artinya; ngga yakin! Ini berlawanan dengan hal yang seharusnya, Insya Allah tetap merupakan janji yang harus ditepati kecuali ada hal yang diluar kuasa kita terjadi. Perasaan ngga enakan ini yang sebetulnya harus dihindari. Bagus sih sebenernya mempertimbangkan perasaan orang lain, tapi ya jujurlah pada prinsip yang dipegang. Akhirnya malah kita jadi tukang ngasih harkos (harapan kosong).
Kasus 1:
Kamu ditawari makanan sama teman, kebanyakan kita menolak dengan alasan kesopanan (padahal kita juga ngiler tuh ngeliat makanannya). Kalau mau ya bilang aja mau. Nah, masalahnya juga nih banyak juga yang menawari hanya karena sopan santun. Hihihi… pada akhirnya kesimpulannya; ngga sopan kalau kamu makan ngga nawarin ke orang lain dan lebih sopan untuk menolak ketika ditawari makanan. Eh gitu ngga sih? Hihihi…
Kasus 2:
Kamu diajak temen untuk hangout atau ke pengajian. Tapi sebenernya kamu males, tapi ngga mau bikin temennya patah hati. Akhirnya? Insya Allah lagi, pada hari H 80% dia ngga akan dateng karena berbagai alasan.
Kalau kita ngga berani jujur mengungkapkan perasaan, ini akan menjadi bibit-bibit ngomongin di belakang. Terlebih kita jadi tukang penebar harapan kosong (harkos).
Oh iya, ada satu fakta baru, tapi ya ngga tau juga bener atau engga, kenapa ya kayaknya kita lebih jujur kalau menggunakan media-media tidak langsung. Misalnya lewat sms, line, we chat, whatsup, facebook, twitter, dll? Lihat saja bagaimana komentar-komentar terhadap suatu kasus, baik yang membully ataupun yang mendukung. Itu kali ya kenapa orang lebih suka bilang Insya Allah pas ketemu langsung, tapi membatalkan lewat sms. :P
Terus kita harus gimana?
Ya jujurlah pada prinsip yang dipegang. Saya secara pribadi masih sering juga merasa ngga enakkan dan akhirnya ngga jujur pada diri sendiri. Sekarang saya berada di sebuah negara yang jauh, dimana perbedaan menjadi hal yang sangat dominan. Jika tidak jujur pada prinsip sendiri, maka yang terjadi adalah saya banyak melanggar prinsip. Disini ngga sopan kalau misalnya kita ngga ikut minum alcohol pas lagi pesta pernikahan, maka kita ikut-ikutan minum karena tak kuasa menolak. Ngga apa-apa deh ngga sholat karena ngga enak minta izin keluar kelas sebentar pada saat jam kuliah. Disini semua merayakan natal, jadi ngga enak kalau kita ngga ikut-ikutan merayakan. Tuh kan, jadinya banyak mentolerir disi sendiri dan mencari-cari alasan untuk melanggar prinsip.
Dari sekarang saya belajar teguh pada prinsip yang diemban. Masalah dia akan tersinggung atau tidak itu kan masalah komunikasi. Kita yang tau situasi dan kondisi saat sesuatu itu terjadi. Maksudnya ya, pinter-pinternya kita lah mengungkapkan sesuatu tapi jangan sampai membohongi diri sendiri.
Well, akhirnya gini deh ya, kalau memang kita melakukan sesuatu niatnya karena ibadah, kita ngga akan terlalu dipusingkan dengan apa kata orang di luar. Ridho yang paling sulit diraih itu ya ridho semua manusia. Kan enak kalau misalnya tujuannya lurus ke atas ;) Kita diajari untuk diam ketika harus diam dan berbicara ketika harus berbicara. Apa itu konteksnya? Silahkan lihat apa kata nabi..

Jangan sampai kita menyembunyikan kebenaran hanya karena kita takut. Be free! Cuek aja lagi ;)
*lagi lagi tulisan ini ditujukan untuk menampar diri sendiri.

NB: Ini adalah nasehat yang sama yang diberikan oleh kakak-kakak yang tinggal jauh dari negeri asal. Terima kasih ya, saya sekarang bisa lebih berani untuk jujur pada diri sendiri.

Senin, 25 November 2013

VVIP


Kapan terakhir kali ketemu orang penting?
Artis, politisi, ustadz ternama, atau pejabat pemerintahan bahkan presiden. Perasaan saat ketemu orang penting itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Padahal kalau dipikir-pikir ngga ada bedanya dengan kita melihat dia di layar kaca. Sama aja. Toh dia juga tetep ngga kenal kita kan?
Tapi bagaimana perasaan kalian kalau misalnya ketemu orang penting dan dia menyambut dengan hangat saat bertemu, mengundang kalian mengobrol, dsb.
Saya pernah ketemu orang penting semacam itu.
Minggu kemarin saya dan teman sekamar berencana untuk bersilaturahmi tempat teman di Vienna, Austria selama tiga hari. Kami menginap di salah satu asrama Turki yang didirikan oleh asosiasi yang bertujuan memudahkan pelajar Turki yang belajar di Vienna. Asrama ini terkenal di Turki sendiri, bahkan Erdogan pernah datang ke komunitas ini. Sekitar tiga tahun ke belakang diberlakukan larangan penggunaan khimar (kerudung) ataupun pakaian yang mencirikan agama tertentu. Akibatnya, banyak pelajar (khususnya akhwat) dari Turki yang sekolah ke Vienna demi tetap menggunakan khimar saat belajar. Ya, karena itu boleh dikatakan students yang menginap disini sholehah semua.
Kalau menurut plan yang kita susun, hari pertama dan hari ketiga kita akan berada di Vienna, dan hari kedua di Bratislava (Slovakia). Saat sedang berjalan menuju asrama, teman saya yang dari Turki tiba-tiba berhenti. Memandangi sebuah poster dengan latar belakang sosok seorang bapak-bapak kharismatik. Wow, dia bilang itu orang penting. Seorang jurnalis yang lumayan kritis dan vokal menyuarakan kebenaran. Sehingga sekarang dia diangkat menjadi penasehat presiden Erdogan. Teman saya bilang, dia mau ikut pertemuan dengan orang itu. Ya, saya sih ngga keberatan dan penasaran juga bagaimana pemikiran tokoh penting itu. Tapi saya harus menelan kekecewaan karena ternyata pertemuan diadakan dalam bahasa Turki. Ah, bilmiyorum (ngga ngerti).
Keesokan harinya kami tidak jadi pergi ke Slovakia, namun tetap di Vienna untuk mengunjungi beberapa universitas disana. Malam harinya orang penting itu datang. Pejagaan diperketat. Banyak bodyguard berpakaian ala Man in Black berkumpul di lantai bawah. Sebenernya saya boleh aja sih ikut seminar, tapi karena pasti bakal roaming akhirnya saya naik ke lantai atas untuk belajar bahasa Turki. Sedangkan teman sekamar saya ikut seminar pastinya. Hiks.
Sebelumnya saya memang sudah pernah belajar bahasa Turki, tapi karena belajarnya males-malesan akhirnya ngga bisa-bisa. Bukan apa-apa sih, dulu ngga ngerti kenapa penting belajar bahasa Turki. Sekarang baru kerasa pentingnya.
Sejam pun berlalu dan kami diberi waktu 10 menit untuk istirahat.
Oh ya, saya ketemu seorang teman juga dari Indonesia dan kami belajar bahasa Turki bareng. Saat istirahat kami turun ke lantai bawah. Tetep penasaran dong siapa orang yang datang dan gimana acaranya. Kami masuk ke dalam ruangan dan melihat sekeliling. Seminarnya boleh dikatakan mewah dan ada aura gelombang gamma yang muncul. Gelombang ini bisa hadir saat ada tokoh kharismatik yang berorasi ala Ahmadinejad atau saat konferensi yang membakar semangat.
Tapi tetap saja saya tidak mengerti, karena bahasa yang digunakan bahasa Turki.
Iseng-iseng saya mengambil brosur dan saat itu saya melihat seorang bodyguard perempuan. Langsung deh saya tanya-tanya ngga jelas. Mbak, dia itu siapa? Trus di dalem dia ngomong apa? Terjemahin dong ke bahasa Inggris.  :D
Suer, saya cuma ingin tau dia ngomong apa di dalem secara singkat dari mbak itu. Diluar dugaan dia menjawab; “Duh, bahasa Inggris saya kurang bagus, saya khawatir ada kesalahan dalam penjelasan. Sekarang saya coba pertemukan mbak sama tokoh itu ya. Sebentar”
Tanpa nanya dulu apakah saya mau ketemu tokoh itu atau engga, dia langsung berjalan cepat ke arah kumpulan bodyguard lain untuk meminta waktu tokoh itu. Saya bengong.
Temen Indonesia saya nyikut pelan.
“Fit, emang dia siapa?” bisiknya
“Orang penting teh…” jawab saya
“Iya, pentingnya gimana? Terus nanti kalau kita ketemu kita mau nanya apa?” bisiknya lagi
Glek. Keringat dingin bercucuran. “No idea, teh… Kita kabur aja yuk"
Saat itulah dia datang bersama rombongan bodyguard ke arah kita. Bak pengantin pria dengan para rombongan yang membawa seserahan. Aduh mak, saya pucat pasi.
Tokoh itu datang, menyalami saya dan teman. “Mohon tunggu sebentar ya, disini. Sepuluh menit saja. Saya ke dalam dulu ada perlu.” ujarnya
Selama sepuluh menit itu otak saya bekerja keras, berusaha merangkai pertanyaan yang kira-kira keren untuk ditanyakan. Wah, saya ngga ada ide siapa orang itu. Saya cuma tau dia orang penting.
Sepuluh menit kemudian saya diajak masuk ke sebuah ruangan privat, disana ada sebuah meja panjang oval. Dia duduk di paling ujung dan saya dipersilahkan duduk di dekatnya. Setelah tokoh itu dan saya duduk, kemudian rombongan Man in Black itu duduk. Seorang berjaga-jaga di pintu. Otak saya masih berpikir keras untuk tidak melakukan tindakkan memalukan Indonesia di mata dunia. Hehehe… Sekitar sepuluh pasang mata menatap saya. Menunggu saya bicara.
“Well, okay, saya Fitria, dari Indonesia. Saya sangat ingin mengetahui pandangan Turki tentang kondisi Islam di dunia. Seperti di Mesir, Suriah, Libya, Palestina, kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi disana. Kemudian apa peran Turki untuk menyelesaikan persoalan tersebut.”
Tokoh itu tersenyum.
“Jangan khawatir, kita sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Ekonomi di Turki sekarang sedang meningkat 300 persen. Kita akan bangkit kembali seperti Ottoman Empire (Khilafah Utsmaniyah). Insya Allah dalam waktu dekat Islamic Empire (Khilafah) akan kembali tegak dan Turki sebagai pemimpin perubahannya. Tapi ssttt… jangan bilang-bilang” dia mengedipkan matanya
Saya tertegun. “Prediksi Anda, kapan Islamic Empire akan kembali?”
“Itu tergantung usaha kita, entah dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi. Namun yang jelas dia akan kembali”
Teman saya sepertinya tertarik, dia ikut bertanya tentang Palestina. Tapi saya khawatir salah menuliskan jawabannya, jadi lebih baik ngga usah ditulis. Hohoho…
Orang penting itu kemudian menyuruh bodyguard disampingnya untuk menuliskan alamat emailnya. Lalu memberikannya kepada saya.
“Kirimi saya email jika Anda masih punya pertanyaan, ok. Saya juga akan mengirim beberapa file buku jika Anda mau” dia tersenyum dan saya dipersilahkan untuk kembali ke habitat.
Wah, saya udah euphoria banget saat itu. Loncat-loncat ngga jelas, narik-narik baju teman saya, sambil tangan masih gemeteran saat kembali ke kelas bahasa Turki. Hehehe, yang penting selamat… *kalau diinget-inget kok kayaknya gue lebay banget ya :D
Saat menaiki tangga ke kelas teman saya bertanya;
“Hei kok kamu bisa sih kagum dan excited banget ketemu sama dia, kenal aja engga, ajaib banget”
“Ya, ngga tau teh, da temen sekamar saya bilang dia orang penting, pemikirannya bagus. Urusan kenal belakangan, yang penting saya tau dulu gimana pemikirannya. Kita ngga tau apakah ada kesempatan buat ketemu langsung kayak tadi kan” jawab saya ngeles
Di atas kita ketemu sama guru bahasa Turki (orang Turki) dan dengan semangat 45 saya ceritain semua pengalaman di lantai bawah tadi.
Dan ternyata dia biasa-biasa aja tuh.
“Kenapa musti excited? Itu udah biasa di Turki, dia kan manusia juga. Pemerintah memang ngga boleh punya border sama rakyatnya, bahaya dong.”
Beuud. Ternyata memang beda ya karakter penguasa di setiap negara. Hmm, seinget saya di Indonesia ngga bisa kayak tadi. Kalau presiden, wapres, dll lewat pasti ujung-ujungnya macet dan bahkan sempat ada kasus kecelakaan saat presiden lewat. Entahlah, tapi saya merasa ada border antara penguasa dan rakyat di negeri kami. Satu-satunya waktu dimana kita ngerasa deket banget adalah sebelum mereka menjadi penguasa. Ya, saat pemilu. Setelah terpilih dan menang, langsung deh amnesia. :P
“Oh ya Fit, kamu tau ngga siapa orang penting tadi?” tanya rekan saya
“Engga”
Gubrag!
“Let’s called VVIPFF (Very Very Important Person For Fitri)”
Dan semua tertawa. []

 
Ini dia VVIP itu hehehe... Namanya Yigit Bulut

Selasa, 19 November 2013

Rindu

Bagaimana aku mengungkapkannya
Bisakah aku menjelaskan padamu
Karena kata tak pernah cukup

Nada yang menguat
Waktu yang meloncat-loncat
Ah, semuanya terlalu sederhana

Saat mentari terbenam
Bayangmu memantul dibalik jendela

Saat hujan turun
Rindu merasuk bersama dengan udara dingin
Mengigil 

Saat daun berguguran
Hatiku tetap gerimis merindukanmu

Mungkin kau benar
Yang kurasa sebenarnya sederhana
Rindu
ya mungkin begitu

Aku merindukanmu
Meski aku tak pernah yakin
Apakah kata itu cukup bekerja 
tapi sudahlah
mungkin memang benar
itu adalah rindu

yang menyengat...